Kustomisasi
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Tak Lama Lagi


Mengejar mujarab kata
hendak menjadi guru
Menempatkan diri menjaga dunia
dengan setumpuk kedangkalan
sampai gusar menebal
tak terkawal, atau rengkuh

Menjelang senja
busur yang dilesakkan
berkumandang dalam sunyi
mendiamkan detak jantung

Tlah berpeluh aku menunggu
sisa wangi, tercium
Ini waktunya
meletakkan kesadaran
bahwa aku titik tanpa koma
yang telah diperolok oleh waktu

Pergi melengkapi iman
atau mati sia-sia......




>

Berdiri Keruh



Mata air
bergumam tuk pagi
Jangan ubah embun
menjadi debuku !

Menelan smua perjuangan
hingga kembung sia-sia
Kini tergesa-gesa…
menggelepar tuk mengatakan
betapa ku butuh uluranmu
dimusim kering, tidak mengemis

Bisakah kalian melunak, lihat aku
Miskin dan kufur…

Jangan tinggalkan aku !





>

Mata Bumi



Pandangilah bumi !
lahir dan menyusui
dalam siraman hujan
hijau kemudian tua
dalam belaian udara

Perasaan cinta
tlah kehilangan jalan
hancur dalam sikap bodoh

dikaki-kaki Mahakarya sesungguhnya !

Entah 100 tahun dari sini
akal menjadi bangkai tua
membuat mata bumi marah
tentang warisan anak cucu
yang tak lagi punya arti apa-apa





>

Tarian Musim



Musim menari-nari
telanjang
dan telunjuk
berputar

Satu-satu
butiran
jatuh ke bumi
dan gelak tawa
mewakili
masa lalu

Aku tak
menutupi kepala
dengan
selembar daun lagi

Membiarkan
gemerincing hujan
membalut
rasa kekanakan
yang datang
menghampiri
senja yang basah
sebelum pulang

Hujan tak pernah
seindah ini –
melarutkan





>

Neurotik



Aku lelaki
Kelam tak berwujud
yang terlempar jangkar
karam bersama
amarah
Membentuk letupan
dari celah kosong
kepedulian tersisa

Aku semestinya mati
membiarkan musim semi tiba
bukan hidup
dalam kangkangan dunia
hingga
tersisa perih dan gelora
memuntahkan
kebencian demi kebencian

Dalam keluhan
aku semakin
melupakan
wujud ku !





>

Opera Sunyi



Pohon rindang
melindungi separoh bayang-bayang
saat sinar matahari
mencuri seluruh waktu
yang pernah rasakan
kehadiran

Aku bukan anak
lebih dari penyesalan
Aku bukan saudara
lebih dari sumpah serapah
Aku bukan teman
lebih dari kebencian
Dan aku bukan kekasih
lebih dari ejekan

Aku batas sunyi
dalam gorong-gorong
tampak larut
mengerat jari-jari tangan
mencairkan batu
dalam potongan puzzle

…..sedang apakah
aku disini
dalam
opera sunyi






>

Putra Mahkota

Inilah tenun
benang kasih sayangku
yang menjadi kain pelindung
bagi kalian, putra-putraku

Jangan kenang coraknya
aku mungkin tumpah

Raih saja
menara tertinggi
di hati
lantaran
kelebat bayang
penanda bagiku
tak memutus kasih
tak mendiamkan sayang

Meski gerimis
sebentar saja
menghapus jejak
Pendar-pendar cahaya
kan slalu menjamah kalian








>

Teman Suatu Ketika…


Kemarin
adalah sisa
hari yang berat

Aku tak menyanggupi
dan terkapar lemas

Suatu ketika, semua berjalan salah

Tunjukkan,
apa kau sudah merasa cukup ?
menghirup racun raja
berlomba menggilai menang
dengan tipu dan pongah

Meski jendela terbuka
ku putuskan menelan rahasia
dari seluruh gema dinding
dan mati dalam badai

Kau,
adalah teman
meski tak sampai hingga esok….





>

Sepanjang Waktu



Kini kuputuskan
berlari, sekencangnya
sembari merentangkan tangan
agar bisa menyentuh apa saja
sebagai kontak ku pada realitas

Dekap keingintahuanku
dan Bicaralah dengan bahasa kumengerti
sebagaimana aku pernah jatuh cinta
pada ilusi kebahagiaan
yang membuatku mengejarnya

Jalan ini menuju rumah,
meski bukan yang kubangun
Hanya warisan peta tua
yang pernah diberikan padaku

Iringan debu saling membelakangi
merasakan, angin berucap
Segera lupakan yang mereka katakan,
bahwa aku kembali bermimpi
tentang kebahagiaan

Berlarilah…
teruslah berlari !!
Dan, itu…
bukan ilusi







>

Hitam Lesap


Aroma Ambrosia
menjadi
sepotong bejat

Telah lesap akal
…dan
………ya

Merajuklah dilingkaran
puting beliung
berputar kencang
tak penat

Mungkin
‘waktu’
sedang mengejek
tubuh-tubuh tersudut
di kaki meja

Niat tuk akhiri
niat tuk lari
lesap,
aroma Ambrosia
tuk Tuhan sekali lagi





>

Ngambang



Lompati batas, batas itu dingin
berupa kubangan atau ia layar putih
yang tembus pandang.
……..aku tak tahu !
Aku menamakannya, visi yang tak pernah mati.

Lompati semua, darimana asal tuk semua asal.
memulai pencarian ke bentuk-bentuk yang ditinggalkan
……..eksotis !
Aku menjulukinya, figur pemalu.

Pandangan ini merayap kedinding-dinding basah
dengan satu dua coretan tersisa.

Pada batas-batas pandangan
pada batas-batas lompatan

Bahkan ada yang mengelabui.
toh, semakin banyak juga yang mengikuti lompatan

Pada batas-batas yang terpasang jerat mematikan
……..sentuhan abadi !

Aku meneriaki mereka sebagai patriotic sejati !





>

Sejenak

Debu baru saja lewat,
dijalan yang sama, aku tak terlihat
teriakanku menodai
lalu lalang tanpa warna dan senyuman

Ku atapi keengganan menuju satu tujuan
dari lapisan kardus, sehelai demi sehelai
hingga tajam kuku matahari, membuatku rebah
menidurkan mimpi sejenak…

Dalam kesempatan bahagia yang ganjil
hujan pun menghujam bumi
keraguan menghampiri tubuh yang basah
tentang keberanianku meneriakkan ketulusan

“mari, berhenti sejenak disini…..”

Dan aku merasakan,
orang-orang itu menganggapku
tlah mengendalikan jalan fikiran mereka











>

Memori


Aku bukan pelari cepat
tapi kan kutunjukkan, padamu
bahwa ‘waktu’ yang datang
untuk mendahului
bukan untuk dirisaukan
Jika kau larutkan kesabaran
kedalam gelas yang kan diteguk….

Aku hanya bisa merasakan terik
tanpa melihat terang
dan menerka dingin
tanpa mengetahui gelap
Tapi, kan kuberitahu padamu
bagikanlah senyummu
yang dapat diteropong
agar sunyi rebah
dan tak bangun lagi…..

Bertahanlah dipunggungku
agar bisa kuhantar engkau
pada jalan terbaik, yang aku tahu
Dan nanti,
engkau akan memiliki ‘waktu’ mu sendiri
memutar kembali, memori ini…..





>

Tersenyumlah Padaku



Jangan lepas genggamanmu, wahai pemuda
ada banyak permainan yang bisa kutunjukkan

Dengarkan, gemeretak gigiku…
aku bisa memainkannya lebih cepat
saat hujan tiba…..

Lihat, lipatan kulit wajahku…
aku bisa memaku bibir ke dahi ini
jika matahari datang mencubit…

Kalau engkau tak sudi
berdiri saja dipojok
dan perhatikan dengan seksama

Aku bisa menakuti kecoak
lari terbirit-birit
dan tak mendatangi lagi
pecahan nasi ini…..

Tersenyumlah untukku,
aku akan memainkan apasaja
agar engkau menoleh
dan tak segera pergi…

Ijinkan aku berkeluh,
aku sudah terlalu lama disini,
sendiri……



>

Menerobos Siang Hari


Pelan menempuh
lintasan jalur cepat
berkesempatan lolos
atau, tergencet mati

Diri tlah lelah terpana…
menanti binar putih datang mendekati
Hanya menatap
dari seberang gelap malam
tanpa bisa menyentuh cahaya

Kepuasanku kini
berbaur ancaman
tatkala matahari menguliti malam
Menukar kesenangan
atas cahaya itu….

Tak ada yang memilih berhenti
untuk memberiku jalan
Semua semakin berputar saja,
lagi….dan lagi
roda niat hendak menggilas

Di setengah perlintasan
aku merasa ini bukan cara yang kuinginkan…..

Lebih indah memilih diam ditempat
menutup mata
membayangkan gelapku adalah malam
dan menghadirkan cahaya itu lagi….

Kali ini, jutaan kali……..






>

Dagelan Kata



Jika kau kelabui
Aku dungu

Jika kau anggap tiada
Aku bodoh

Perangkap dagelan
Aku sesali

Kata-kata harus berdiri
seperti yang ingin kau lihat

Menghisap ramalan masa depan
bersembunyi
seperti kau inginkan

Sedalam berfikir
diri lebih terpenjara
dari apa yang kita kira...

Jika kata-kata bergelantungan






>

Bangkit Integritas



Disatu petang
pilihan itu tak lagi ada,
Kabut menutupi jalan lain
membuat diri memutar
tersedot puting beliung
Masuk kedalam sumur tua
tempat, tikus mengerat jantung
membangun sebuah negeri…..

Jika saja, terompet satu kavaleri
menjadi bisikan kembali
aku takkan menyusuri
lubang kecil yang membingungkan

Jika saja, aku memiliki teman
dan seutas tali memanjat keatas
tak akan diri kehabisan tenaga
menangkap hijau permukaan

Kini,….
Jika bau busuk sumur tua itu
adalah negeri yang menjerat
setiap petualangan idealisme
maka, biarkan dedaunan kering jatuh
menutupinya

Dan hujan melumuri pinggirannya
hingga, tak lagi bisa terbuka…..

Biarkan waktu yang bergulir
menjadikan tunas muda tumbuh
terjaga……diatasnya




>